www.AlvinAdam.com

Berita 24 Bali

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Bye Bye Plastic, Kisah 2 Gadis Muda Mewujudkan Bali Bebas Sampah Plastik

Posted by On 17.27

Bye Bye Plastic, Kisah 2 Gadis Muda Mewujudkan Bali Bebas Sampah Plastik

Melati Wijsen KOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENA Melati Wijsen

KOMPAS.com - Tahun 2050, jumlah sampah plastik diperkirakan bakal lebih banyak dibandingkan jumlah ikan di lautan. Bahkan saat ini menurut AFP, sampah plastik di Samudera Pasifik sudah melebihi dari gabungan luas wilayah Perancis, Jerman dan Spanyol.

Menurut riset seorang peneliti dari Universitas Georgia Jenna Jambeck tahun 2015 lalu, Indonesia sendiri merupakan penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia setelah China.

Konsumsi plastik di Indonesia mencapai 17 kilogram per tahun per kapita, dengan pertumbuhan ko nsumsi mencapai 6รข€"7 persen per tahun. Dari jumlah itu, hanya 10 persen yang bisa didaur ulang. Sisanya berada di tempat pembuangan akhir, terserak di ruang publik, atau berakhir di pesisir dan lautan.

Masalah plastik itu pun menjadi keprihatinan Bye Bye Plastic, suatu gerakan yang digagas oleh dua remaja putri asal Bali, kakak beradik Melati Wijsen dan Isabel Wijsen sejak 2015 silam.

Baca juga: Krisis Sampah Plastik Ancam Indonesia, Seberapa Parahkah Kondisinya?

Ketika itu umur keduanya baru berusia 12 dan 10 tahun. Melati bercerita, dia dan adiknya tergugah untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti kelas mengenai orang-orang yang membawa perubahan alias changemakers di sekolahnya, seperti Nelson Mandela dan Kartini.

"Waktu kami belajar tentang hal itu, lalu kami berpikir, what can we do as kid. Kami tidak mau menunggu kami sudah selesai sekolah atau dewasa. Kami ingin mulai sekarang," ucap gadis keturunan Belanda itu kepada Kompas.com usai menjadi pembicara dalam APMF 2018 di Badung, Bali, Kamis (3/5/2018).

"Kami tinggal di Bali, lalu saya berpikir masalah apa yang bisa kita pecahkan. dan kami terpikir mengenai waste plastic, itu masalah besar untuk orang besar. Tetapi kita bisa berperan in our part," tambah dia.

Dia menyebut, saat itu terdapat 40 negara yang melarang kantong plastik. "Jadi kami berpikir, kalau 40 negara bisa, ayo Indonesia, ayo Bali, kita pasti bisa," ucapnya penuh semangat.

Baca juga: Luhut Ajak ASEAN Tanggulangi Masalah Sampah Plastik di Laut

Melati Wijsen saat menjadi pembicara APMF 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, BaliKOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENA Melati Wijsen saat menjadi pembicara APMF 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, BaliDia mengaku sebagai anak yang masih kecil, dia dan adiknya tidak mempunyai rencana ataupun strategi apapun saat memulai Bye Bye Plastic. "Hanya pikiran untuk membuat Bali sebagai pulau yang bebas dari kantong plastik, very simple," cetus gadis kelas 9 SMA ini.

Kakak beradik itu pun berpikir untuk menaruh gagasannya itu di media sosial. Melati mengenang, saat itu yang pertama me-like di media sosial adalah ayah dan ibunya.

Setelah itu, mereka pun berpikir membuat petisi online, untuk mendapatkan dukungan dari semua orang, tidak hanya Bali dan Indonesia saja, tetapi juga secara internsional. Kedua gadis cilik itu pun membuat petisi online mengenai Pulau bali bebas dari kantong plastik. Ketika itu mereka langsung mendapat 6.000 dukungan dalam 24 jam.

"Saat kami bangun, kami terkejut. Kami reloading, dan terdapat 6.000 penandatangan. Jadi momentum untuk perubahan sudah siap. Artinya publik dan dunia sudah tahu masalah sampah plastik ini besar sekali. Kalau ke Bali, atau tinggal di Bali, kamu bisa lihat, itu masalah besar," papar Melati.

Baca juga: Kevin Lilliana, Belanja Tanpa Kantong Plastik

Setelah mendapat dukungan secara online, Melati dan Isabel pun meminta bantuan temannya untuk mewujudkan ide tersebut. mereka pun bergerak ke sekolah-sekolah untuk mengajak rekan-rekan seusia mereka agar peduli terhadap sampah plastik.

"Next step adalah bicara di sekolah-sekolah dan membuat tim. Kami mengumpulkan 6 orang teman. Ini ide kita tolong bantu. Akhirnya dari two sister to big team young people. And we kid in the mission!" ujar dia.

Saat ini Bye Bye Plastic berkekuatan 30 orang inti di Bali. Mereka terdiri dari anak berusia 9 tahun hingga mahasiswa. "Tetapi kami bekerja sama dengan 40 LSM, dan kalau kita mau aksi kita punya 20.000 orang yang bisa datang," ucapnya sambil tertawa.

Sampah plastik menjadi masalah bersama umat manusia. Sampah ini sulit diurai bahkan membutuhkan ratusan tahun.KOMPAS.COM/ROSYID AZHAR Sampah plastik menjadi masalah bersama umat manusia. Sampah ini sulit diurai bahkan membutuhkan ratusan tahun.Dalam 5 tahun, kedua kakak beradik dan timnya terus berupaya untuk mewujudkan gagasan mereka. Mereka pun sudah berubah menjadi changemakers seperti idola mereka, Nelson Mandel dan Kartini. Mereka menjadi suara anak muda untuk menyampaikan gagasan mereka tidak hanya lokal tetapi juga di dunia.

"Kami tiba-tiba menjadi suara anak muda. A wake up call bagi semua orang untuk mulai bicara, 'hey we have to start building a future and world that we are happy about it, that we want to be a part it,'" ucap dia.

"Voice of youth ini, tidak hanya di Bali, atau Indonesia, tapi sudah mendunia. Kami sudah bicara dengan 18.000 anak muda di seluruh dunia. Kami j uga sudah membuat buku edukasi untuk anak SD di Indonesia. Buku yang fun untuk belajar mengenai isu ini," tambahnya.

Melati dan Isabel pun diundang ke berbagai negara termasuk juga markas Perserikatan Bangsa Bangsa untuk berbicara mengenai sampah plastik di hadapan para pemimpin dunia. "Kami juga sudah bicara di konferensi di hadapan para pemimpin bisnis dan industri," sebutnya.

2018 Pembatasan Kantong Plastik di Bali

Salah satu buah perjuangan anak-anak bangsa ini adalah tercapainya kesepakatan bersama (MoU) dengan Gubernur Bali I Made Mangku Paskita mengenai pembatasan kantong plastik di Bali pada tahun 2018.

"Kami punya surat edaran, surat dukungan, kami juga sudah bicara dengan bupati-bupati di Bali, DLH-DLH (dinas lingkungan hidup) dan kami bekerja sama dengan mereka supaya itu bisa terlaksana, dan kami akan punya pulau yang bebas plastik," imbuh dia.

Meski sekarang sudah memasuki bulan kelima tah un 2018, masih belum ada tanda-tanda penerapan MoU tersebut, meski mengaku agak frustasi Melati tetap optimistis. Menurut dia 2018 masih ada sampai akhir tahun untuk mewujudkan MoU pembatasan plastik di Pulau Dewata itu.

"Dan kita tidak bisa point a finger menyalahkan orang lain. Harus bekerja bersama. Namun sebagai anak muda, terkadang frustasi juga untuk berusaha mengerti kenapa lama sekali," sebutnya.

"Kita harus memulai dengan langkah kecil. Mengatakan say no to plastik memang gampang sekali, tetapi untuk melakukannya memang perlu waktu. Dan seharusnya Bali bisa menjadi contoh untuk memimpin dan pelopor bagi Indonesia," demikian Melati Wijsen.


Berita Terkait

Pemerintah Campur Sampah Plastik dengan Aspal

Terkini Lainnya

Berita Populer: Cuti Bersama Tetap 7 Hari hingga Sri Mulyani Tak Takut Debat

Berita Populer: Cuti Bersama Tetap 7 Hari hingga Sri Mulyani Tak Takut Debat

Makro 08/05/2018, 07:19 WIB Kembali ke Desa, Yakin Bisa?

Kembali ke Desa, Yakin Bisa?

Keuangan 08/05/2018, 07:08 WIB Ini Momentum yang Diharapkan Bisa Jadi Pendongkrak Ekonomi 2018

Ini Momentum yang Diharapkan Bisa Jadi Pendongkrak Ekonomi 2018

Makro 08/05/2018, 06:54 WIB Dollar AS Tembus Rp 14.000, Ini Kata Sri Mulyani

Dollar AS Tembus Rp 14.000, Ini Kata Sri Mulyani

Makro 08/05/2018, 06:02 WIB BTN-PN Jaksel Luncurkan E-Panjar

BTN-PN Jaksel Luncurkan E-Panjar

Keuangan 08/05/2018, 05:33 WIB Sri Mulyani:    Saya Tidak Takut Tantangan Berdebat...

Sri Mulyani: Saya Tidak Takut Tantangan Berdebat...

Makro 07/05/2018, 22:59 WIB Bank Mandiri Kejar Target Kredit Mikro Tumbuh 32 Persen pada 2018

Bank Mandiri Kejar Target Kredit Mikro Tumbuh 32 Persen pada 2018

Keuangan 07/05/2018, 22:39 WIB Target, 800 UMKM Kuliner GrabFood Dapat Pinjaman dari Bank Mandiri

Target, 800 UMKM Kuliner GrabFood Dapat Pinjaman dari Bank Mandiri

Keuangan 07/05/2018, 22:27 WIB Menhub Minta Operator Transportasi Pasang Ornamen Asian Games

Menhub Minta Operator Transportasi Pasang Ornamen Asian Games

Makro 07/05/2018, 22:19 WIB BI: Pertumbuhan 5,06 Persen di Kuartal I/2018 Tertinggi sejak 2015

BI: Pertumbuhan 5,06 Persen di Kuartal I/2018 Tertinggi sejak 2015

Makro 07/05/2018, 22:11 WIB Kemenhub Gandeng Swedia untuk Pengoperasian ATC Jarak Jauh

Kemenhub Gandeng Swedia untuk Pengoperasian ATC Jarak Jauh

Bisnis 07/05/2018, 21:34 WIB Himbara: Bank-bank BUMN Stabil

Himbara: Bank-bank BUMN Stabil

Keuang an 07/05/2018, 21:13 WIB Kurs Rupiah Ditutup Tembus Rp 14.000 per Dollar AS di Pasar Spot

Kurs Rupiah Ditutup Tembus Rp 14.000 per Dollar AS di Pasar Spot

Keuangan 07/05/2018, 21:09 WIB Usai Akuisisi Uber, Grab Perluas Layanan GrabFood ke 125 Kota

Usai Akuisisi Uber, Grab Perluas Layanan GrabFood ke 125 Kota

Bisnis 07/05/2018, 20:50 WIB Suku Bunga Acuan AS Diprediksi Mencapai 3 Persen, Ini Antisipasi BI

Suku Bunga Acuan AS Diprediksi Mencapai 3 Persen, Ini Antisipasi BI

Makro 07/05/2018, 20:22 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Bali

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »